Selasa, 20 Maret 2012

Kebudayaan dan Kepribadian

Bab I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI) kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Dan secara etimologi, kata kebudayaan berasal dari kata budaya berasal dari kata sangsakerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi dan akal,dengan kata lain kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Budaya terbagi atas ranah sosial dan individual. Pada ranah sosial dikarenakan budaya lahir ketika manusia bertemu dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih baik sekedar pertemuan-pertemuan incidental. Sedangkan dalam ranah individual karna budaya diawali ketika individu-individu bertemu masing dan saling memberi pengaruh.  Individu membawa budayanya pada setiap tempat dan situasi di kehidupannya sekaligus mengamati dan belajar budaya lain dari individu lain yang saling berinteraksi dan selanjutnya dibawa pulang pada budaya aslinya, dan mengembangkan budaya tersebut.
 Sedangkan definisi kepribadian adalah serangkaian karakteristik pemikiran, perasaan, dan perilaku yang berbeda antara tiap individu dan cenderung konsisten dalam setiap waktu dan kondisi. Ada dua aspek dalam definisi itu yaitu, kekhususan(dictinctiveness) dan stabilitas  dan konsistensi ( stability and consistency, phares 1991). Dalam psikoanalisa Freudian tahapan-tahapan perkembangan kepribadian mulai dari oral hingga dewasa. Begitu masa kanak-kanak terlewati dan kepribadian telah terbentuk maka kepribadian adalah cenderung dalam garis konsisten di setiap waktu dan kondisi. Dalam behavioristik bahwa kepribadian adalah kumpulan respon-respon kebiasaan. Dalam teori ini kepribadaian dipandang cenderung menetap sekalipun ada rentang toleransi respon dalam menyesuaikan stimulus dan reinforcement (reward and punishment) yang mungkin timbul. Dalam teori Humanistik bahwa kepribadian diarahkan oleh pemenuhan level-level kebutuhan dengan puncaknya adalah keberhasikan dalam aktualisasi diri
Sejalan dengan derasnya arus modernisasi dan globalisasi, budaya-budaya daerah kian memudar dan terpinggirkan oleh budaya-budaya yang masuk dalam tubuh budaya kita yang dominan berasal dari budaya barat . sehingga dari akibat tersebut dapat menimbulkan berbagai macam masalah diindonesia, antara lain adanya perbedaan karakter kepribadian budaya barat dengan budaya indonesia yang dapat merusak budaya indonesia yang juga dapat mengakibatkan pembentukan kepribadian yang kurang baik akibat pergeseran nilai-nilai kebudayaan yang ada.

Berbicara mengenai kepribadian dan kebudayaan, tidak terlepas dari hubungan antara masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat dan kebudayaan merupakan perwujudan atau abstraksi perilaku manusia. Kepribadian mewujudkan perilaku manusia dan latar belakang perilaku yang ada dalam diri seseorang.

B.  Tujuan
Dalam makalah yang kami buat ini berharap dapat menambah wawasan kami dan pembacah untuk dapat mengetahui hubungan antara budaya dan kepribadian dan menentukan kepribadian yang baik dalam ruang lingkup budaya.

C.  Sasaran
Sasaran yang ingin kita capai untuk seluruh manusia tentang kebudayaan yang menjadi salah satu faktor dalam membangun kepribadian seseorang karena kepribadian merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan sosial. Kebudayaan memberi pengaruh besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan dimana seseorang tumbuh dan dibesarkan dengan norma dalam keluarga,teman dan kelompok.

















Bab II
PEMBAHASAN
Dalam menelaah pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian, sebaiknya dibatasi pada bagian kebudayaan secara langsung mempengaruhi kepribadian. Berikut tipe-tipe kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni:
               I.     Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan. Disisni kepribadian yang saling berbeda antara individu yang merupakan anggota suatu masyarakat tertentu karena masing-masing tinggal didaerah yang tidak sama dengan kebudayaan khusus yang tidak sama pula.
             II.     Cara hidup dikota dengan didesa yang berbeda. Anak kota terlihat berani untuk menonjolkan diri diantara teman-temannya dan sikapnya lebih terbuka untuk menyusaikan diri dengan perubahan sosial, sedangkan anak desa lebih mempunyai sikap percaya diri sendiri dan lebih banyak mempunyai sikap menilai.
           III.     Kebudayaan khusus kelas sosial, yaitu mempunyai sikap menghargai yang tertentu pula.
           IV.     Kebudayaan khusus atas dasar agama. Agama juga mempunyai pengaruh besar dalam membentuk kepribadian seorang individu.
             V.     Kebudayaan berdasarkan profesi.

Budaya membentuk norma,sikap,dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi secara intens berakar disuatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh kultur yang lain. Adapun peranan kebudayaan yang membentuk kepribadian, yaitu kekuatan (strength), kelemahan (weekness), peluang (oppurnity), dan tantangan (theart).

Kandungan teori kepribadian
Fenomena kedua yang menunjukkan hubungan antara budaya dengan kepribadian adalah masalah antesedent, atau latar belakang kondisi sosial budaya dimana suatu teori dibangun, yang mempengaruhi bagaimana isi dan suatu teori dibangun. Kondisi sosial selalu terus berubah sebagaimana budaya yang dinamis saling berasimilasi dan berakulturasi.

Metodelogi dan cara pengukuran
Bagaimana metodelogi dan cara mengukur suatu kepribadian dalam konteks lintas budaya?
Metodelogi: banyak sekali kesulitan dan bias yang timbul ketika dilakukan studi-studi dalam ranah psikologi lintas budaya. Misalnya persoalan bahasa, penggunaan Multilingual (peneliti dan subjek penelitian memiliki bahasa yang berbeda) sehinggan member respon yang berbeda terhadap pertanyaan dalam tes kepribadian.
Cara pengukuran: banyak alat-alat tes kepribadian dikembangkan oleh peneliti dari Amerika-Eropa. Sehingga sangat mungkin stimulus maupun standar norma dan interpretasi alat psikotes kurang mampu diterapkan dalam pengukuram kepribadian individu dari budaya non-western.

Locus of control
Hal yang paling menarik dalam kajian antara kepribadian dengan konteks lintas budaya adalah masalah locus of control. Menurut Rotter (1966) bahwa setiap orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar control diri mereka terhaadap perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan.Lokus control seringkali dihubungkan dengan karakter-karakter kepribadian. Literature Amerika menjelaskan bahwa pribadi-pribadi dengan lokus kontrol eksternal tampak lebih sering mengeluh namun lebih mudah berkompromi ketika menghadapi konflik.

Budaya dan Konsep Diri
Konsep diri adalah inti dari keberadaan (existence) dan secara naluriah tanpa disadari mempengaruhi setiap pikiran, perasaan dan perilaku individu tersebut.
Dua kontinum yang sering dilakukan untuk mempermudah studi mengenai konsep diri dalam lintas budaya adalah konstruk diri individual dan diri kolektif atau (independent construal of self dan interdependent construal of self).

1.       Diri Individual
Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal, kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian, dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan.Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan. Disini nilai kesuksesan dan perasaan akan harga diri membentuk khas individualism. Ketika individu sukses untuk melaksanakan tugas budaya, tidak tergantung pada orang lain, maka mereka lebih puas akan diri mereka dan harga diri merekan meningkat, hal iini dikarenakan berkat usaha keras dari individu tersebut karena mampu mampu menggapainya tanpa bantuan orang lain.
2.       Diri kolektif
Budaya yang menekankan nilai diri kolektif sangat khas dengan ciri perasaan akan keterkaitan antar manusia satu sama lain. Tugas normatif utama pada budaya ini adalah bagaimana individu memenuhi dan memelihara keterikatannya dengan individu lain. Individu diminta menyesuaikan dirinya dengan orang lain atau kelompok untuk mempu membaca dan memahami pikiran perasaan orang lain, bersimpati untuk menempati dan memainkan peran yang telah diberikan. Tugas normatif sepanjang sejarah budaya adalah mendorong saling ketergantungan satu sama lain, sehingga diri (self) lebih fokus pada atribut eksternal termasuk kebutuhan dan harapan-harapannya.

Pengaruh pada social explanation
Konsep diri juga mejadi semacam pola paduan bagi kognitif (cognitive template) dalam melakukan interpretasi  terhadap perilaku orang lain. Individu dengan diri individual (Independent self) yang memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki serangkaian atribut internal yang relatif stabil semacam: sifat kepribadian, sikap,dan kemampuan, akan menganggap orang lain juga memiliki hal yang sama. Ketika mereka melakukan pengamatan dan interpretasi terhadap perilaku orang lain, mereka berkeyakinan dan mengambil kesimpulan bahwa perilaku orang lain tersebut juga didasari dan didorong oleh aspek-aspek dalam atribut internalnya.

Pengaruh pada motivasi berprestasi
Menurut Feldman, 1999, motivasi adalah faktor yang membangkitkan (direct) dan menyediakan (energize) tenaga bagi perilaku manusia dan organisme lainnya. Dalam teori Motivasi Maslow, manusia memiliki hierarki kebutuhan dari kebutuhan paling dasar yaitu fisiologis hingga kebutuhan paling tinggi yaitu aktualisasi diri.Dalam tradisi barat, konsep diri bersifat individual, motivasi diasosiasikan sebagai sesuatu yang personal dan internal, dan kurang terkait dengan konteks sosial ataupun interpersonal.  Motivasi ini dicirikan adanya kecenderungan untuk memaksa menekan diri sendiri dan secara aktif berjuang menggapai suatu kesuksesan yang individual sifatnya. Menurut Matsumoto, 1996, yang membedakan dua bentuk dari motivasi berprestasi yang berorientasi individual dan yang berorientasi sosial. Motivasi berprestasi yangberorientasi individual umumnya ditemukan pada masyarakat budaya sebagian Eropa dan Amerika. Di masyarakat China, sebaliknya motivasi berprestasi dengan orientasi sosial ditemukan lebih umum dibandingkan yang berorientasi individual.













Bab III
PENUTUP
I.     KESIMPULAN
Faktor lingkungan memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter dimana seseorang tumbuh dan dibesarkan norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial. Faktor lingkungan ini memiliki peran dalam betuk kepribadian seseorang. Sebagai contoh, budaya membentuk norma, sikap,dan nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan menghasilkan konsistensi seiring berjalannya waktu sehingga ideologi secara intens berakar disuatu kultur mungkin hanya memiliki sedikit pengaruh kultur yang lain.





DAFTAR ISI

Abul, Faruq, 2011. Budaya Dan Kepribadian Manusia. (Online), (www. faruqngabar.wordpress.com., diakses 10 Maret 2011).


Reaksi:

0 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo